2 Kunci Sukses di Dua Alam

Sabar dan Syukur Alhamdulilllah segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, yang telah memberikan kita begitu banyak ni’mat, dan seandainya kita mau menghitung nikmat Allah niscaya kita tidak dapat menghitungnya. Shalawat beserta Salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad ﷺ yang telah mengajarkan ummat islam berbagai macam perkara dunia dan akhirat dan menuntun manusia dari zaman kegelapan hiangga zaman yang terang benderang penuh ilmu ini. Berbicara ni’mat yang Allah berikan kepada kita, sungguh tidak ada ujung pangkalnya, seandainya kita mau berfikir dan merenung betapa banyak nikmat Allah yang telah kita dapatkan, kita gunakan dan bahkan kita dustakan, wal’iyadzubillah. Ambillah satu contoh ni’mat dari ni’mat Allah, ni’mat ada, nikmat adanya kita di dunia ini. Coba bayangkan seandainya kita ini tidak ada, atau kalaupun ada dan merupakan ciptaan Allah tapi bukan dari makhluk hidup, kita jadi batu misalkan. Atau jadi makhluk hidup tapi bukan dari kalangan manusia, kita jadi jin begitu. Maka patutlah kita bersyukur telah allah adakan atau ciptakan sebagai manusia yang mana manusia adalah sebaik baik ciptaan kemudian dapat memeluk agama rahmat agama islam ini dan dapat menjalankan syariat islam dengan aman di negeri ini.

Manusia yang beriman dan hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Rabnya maka ia merasa betapa lemahnya ia dihadapan Allah, karena manusia mendapatkan begitu banyak ni’mat sedangkan balasannya kepada pemberi ni’mat itu sedikit bahkan tidak ada sama sekali. Begitu banyak ni’mat yang kita bisa rasakan dan sadari dan ni’mat yang tidak kita sadari. Begitu senangnya seseorang ketika mendapatkannya dan ketika ni’amat itu hilang dan lepas darinya, maka murkalah ia, padahal sedikit cobaan yang ia dapatkan dari kehilangan harta itu tidak ia korelasikan dengan pendustaannya terhadap ni’mat yang telah ia peroleh. Allah yang memberi dan Allah pula yang berhak mengambil, sebagai bentuk cobaan untuk menguji keimanan hambaNya ataupun sebagai adzab, hukuman bagi yang mendustakan ni’matNya dan mendurhakaiNya.

Hal ini sudah menjadi sunnatullah di kehidupan manusia. Mereka bisa senang dan bisa juga bersedih, bisa bahagia bisa juga merana, dapat rezeki ataupun musibah, dan itu semua sudah menjadi ketentuanNya. Hidup penuh liku liku dan suka duka, hal ini agar hidup terasa berwarna sehingga banyak kenangan dan moment yang tak terlupakan yang dapat menjadi bahan cerita kita kepada anak cucu kita kelak dan mereka dapat mengambil pelajaran dari cerita  itu.

Ketahuilah hidup manusia itu tak lepas dari dua buah ujuan yang pasti akan dialami semua manusia. Ujian yang sudah menjadi sunnatullah dan ketentuanNya. Yang pertama adalah ujian kesedihan atau kemalangan, yaitu kemalangan ataupun musibah yang dijalani manusia berupa kehilangan harta, kerabat, atau kehilangan anggota tubuh. Dalam hal ini banyak dari manusia yang dapat melewatinya dengan lancar. Yakni dengan bersabar, itulah jawaban dari ujian pertama ini, manusia banyak yang lulus dan bisa melewatinya. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

  1. dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
  2. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”[1]
  3. mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Para ulama membagi sabar menjadi tiga bagian:

  1. Sabar dalam menjalankan ketaatan, seperti bersabar dalam menjalankan puasa dengan cuaca panas ataupu bersabar menahan lamanya shalat tarawih ataupun shalat gerhana
  2. Sabar dalam meninggalkan maksiat, seperti kita meninggalkan hawa nafsu kita tatkala tergoda akan maksiat atau terpikir oleh kita sesuatu yang munkar kemudian kita bersabar dan menghilangkannya
  3. Sabar dalam menghadapi takdir Allah, seperti sabar tatkala musiabah dari kehilangan harta, anggota keluarga, ataupun anggota tubuh sekalipun.

Ujian yang kedua adalah, ujian kesenangan, yaitu kita diuji oleh Allah dalam mendapatkan keni’matan, nah dalam hal ini banyak diantar kita yang tidak lulus. Adapun jawabannya adalah denga bersyukur. Banyak dari kita yang terlena dengan adanya keni’matan, kita lalai bahakan tidak mau bersyukur. Bersyukur bukan hanya ucapan “alhamdulilllah” saja, akam tetapi rasa syukur kita juga dituntut aplikasinya dalam perbuatan. Hendaknya kita semakin dekat kepada Allah, semakin bertambah iman kita kepadaNya tatkala kita mendapatkan kenikmatan, bahkan dalam menghadapi musibah sekalipun. Banyak dari kita dalam ujian kedua ini yang tidak berhasil, karena Allah berfirman:

Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS. Saba’ : 13)

Betul, sangat sedikit dari hamba hamba allah yang mau bersyukur. Mensyujuri ni’mat ni’mat yang Allah berikan kepada mereka, sudahkah kalian setiap mensyukuri ni’mat ni’mat Allah yang kalian dapat?!

Jadi kehidupan manusia pada dasarnya tak lepas dari 2 ujian tersebut, yaitu ujian kesusahan dan ujian kesenangan, yang mana jawaban dari setiap ujian itu adalah sabar dan syukur. Mudah mudahan kita dapat melewati dua ujian kehidupan itu dengan mudah dan kancar, baik ujian kesusahan maupun ujian kesenangan, sehingga terealisasikanlah sabda Rasulullah ﷺ dalam haditsnya:

عَنْ صُهَيْبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّه ﷺ: ” عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ “

Dari Shuhaib beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, semua perkaranya baik, dan perkara tersebut tidak dimili oleh seseorang pun kecuali orang mukmin, apabila mendapatkan kesenangan ia bersyukur maka kebaikanlah untuknya, dan apabila ditimpa kejelekan ia bersabar maka kebaikanlah untuknya” (HR. Muslim no: 5322) Dan kita dijauhkan dari kufur ni’mat dan tak mau bersabar. Penulis: Amalul Ahli bin Emrizal Twitter (@ahli_amalul)

————-

[1]  Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s