Tafsir An-Nisa ayat 17: Mereka Hanya Orang Bodoh

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا 

“Sesungguhnya taubat kepada Allah hanya bagi mereka yang melakukan kejahatan karena kejahilan (kebodohan) kemudian segera bertaubat. Taubat itulah yang diterima oleh Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa:17)

Siapakah yang disini disebut orang bodoh?

Orang yang tidak mengenal matematika?

Orang yang tidak paham bahasa Inggris?

Orang yang tidak mengerti adab?

Orang yang tidak bisa membaca Al-Quran?

Orang yang tidak paham akan agamanya?

Atau siapa yang disini disebut dengan orang bodoh?

Ya! Semua orang yang melakukan dosa adalah orang bodoh! Mujahid (Ahli tafsir) berkata, “Semua yang bermaksiat kepada Allah tidak disengaja maupun sengaja, dia adalah orang yang bodoh samapai dia berlepas dari dosanya.” (Tafsir Ibnu Katsir Surat An-Nisa ayat 17)

Para sahabat nabi sepakat dan mereka memandang bahwa setiap orang yang bermaksiat kepada Allah maka itu semata karena kebodohan. Baik disengaja maupun tidak disengaja. (Tafsir Ibnu Katsir An-Nisa: 17)

Cukuplah dua penjelasan dari satu ulama tafsir dan sebuah kesepakatan para Ulama Senior umat ini bahwa mereka yang melakukan maksiat adalah orang bodoh.

Dia bodoh ketika melakukan maksiat meskipun dia hafal Al-Quran

Dia bodoh ketika melakukan maksiat meskipun dia hafal Hadits Nabawy

Dia bodoh ketika melakukan maksiat meskipun dia telah mempelajari ribuan buku para ulama

Dia bodoh ketika melakukan kemaksiatan meskipun dia disebut ustadz atau kyai oleh semua orang

Bagaimana tidak?!

Dia mementingkan dunia dan tinggalkan akhirat

Dia mementingkan hawa nafsu daripada keridhaan Allah

Dia tak mau kehilangan kenikmataan sesaat tapi kenikmatan abadi dia tinggalkan

Dia tak sadar, dosa yang dia lakukan akan mempersulit rizkinya

Dia tak sadar, dosa yang dia lakukan akan menghancurkan keluarganya

Dia tak sadar, dosa yang dia lakukan itu menyakiti hewan dan tumbuhan

Sesungguhnya orang yang tidak bisa meredam hawa nafsunya dan mengikuti syahwatnya demi kesenangan sementara dan meninggalkan sesuatu yang abadi  dan memilih neraka sebagai tempat kembali maka dia adalah orang yang bodoh

Dia akan senantiasa memiliki gelar bodoh meski dia adalah doktor

Dia akan senantiasa memiliki panggilan bodoh meski dia adalah seorang profesor

Dia akan senantiasa disebut sebagai orang yang bodoh sebelum dia bertaubat dari maksiat yang dia lakukan.

Saudaraku seiman

Siapakah diantara kita yang tidak memiliki dosa? Siapakah diantara kita yang tak pernah melakukan kesalahan?

Lalu apa yang harus kita lakukan agar dicabut sebutan bodoh ini?

Rasulullah salallahu alaihi wasalam bersabda,

 كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam sering melakukan kesalahan. Sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah: 1036)

Begitulah memang anak cucu Adam. Kesalahan dan dosa adalah sesuatu yang tidak dipisahkan dari kita. Itu adalah sesuatu yang buruk. Tapi keburukan bisa dihapus dengan kebaikan. Dosa bisa dihapus dengan taubat.

Allah berfirman,

ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ

Kemudian mereka bertaubat dalam waktu dekat” (An-Nisa: 17)

Ibnu Abbas berkata tentang maksud “waktu dekat” pada ayat ini, “antara dia dan antara melihat malaikat maut (kematian)”

Adh-Dhahhak berkata, “Setiap waktu sebelum datangnya kematian itu disebut dekat.”

Hasan Al-Bashri menjelaskan, “Sebelum nyawa ada dikerongkongan.” -Tiga atsar ini ada di Tafsir Ibnu Katsir-

Dan hendaknya kita bersegera untuk bertaubat sebelum datangnya kematian. Kematian tak kita ketahui kapan datangnya, maka kita bertaubatlah setiap waktu untuk persiapan dan hendaknya kita senantiasa menjauhi kemaksiatan.

Allah berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kalian mencari ampunan dari Tuhan kalian. Dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi telah disiapkan bagi orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)

Maka lihatlah ayat diatas! Allah menyebut orang yang bertaubat sebagai orang yang bertakwa. Dan telah disiapkan surga bagi orang yang bertakwa. Ini merupakan motivasi dari Allah agar kita senantiasa untuk bersegera bertaubat agar kita mendapatkan gelar Takwa dari Allah dan mendapatkan karuniaNya yang sangat besar berupa surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Kemudian Firman Allah,

وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (An-Nisa: 17)

Dalam penggalan ayat ini terdapat dua sifat dan dua nama yang agung bagi Allah. Yaitu Sifat “Alim” dan “Hakim”. Ini adalah dua sifat yang tidak bisa dipisahkan. Ketika Allah mengetahui sesuatu maka Allah akan membuat keputusan yang bijaksana.

Lihatlah, ketika Allah memberi peringatan bahwa orang yang bermaksiat adalah orang yang bodoh ini bertujuan untuk menakut-nakuti mereka yang berbuat dosa, Allah memberikan solusi adan motivasi gar mereka yang telah berbuat dosa tidak putus asa. Bahwa Allah akan mengampuni hambaNya yang bertaubat sebelum nyawa berada di kerongkongan.

Ketika Allah memiliki sifat Maha Mengetahui, ketahuilah bahwa Allah lebih mengetahui mana yang terbaik bagi kita dan mana yang buruk bagi kita. Bisa jadi apa yang buruk menurut kita ternyata baik bagi Allah dan apa yang menurut kita baik, Allah memandang itu buruk.

Setelah Allah mengetahui baik buruknya sesuatu maka Allah memutuskan takdir dengan Maha Bijaksana. Tidak ada yang sia-sia pada keputusan Allah. Tidak ada kesalahan pada takdir Allah. Semua sudah matang dan tak butuh koreksi kembali.

Memang terkadang bahkan tak jarang, akal ini tak mampu menggapai apa yang Allah maksud. Maka hendaknya kita bersyukur dan bersabar.

Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, dan keluarga dan seluruh sahabatnya dan orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.

Dan akhir dari dakwah kami; Segala puji hanya milik Allah semesta alam.

————————

Ditulis di Asrama STDI Imam Syafi’i Jember

Oleh: Fathan Bin Amin Bin Dipoyono Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orangtuanya

Senin, 6 Rabiuts Tsani 1436H

—————————-

Artilkel ini terinspirasi dari salah satu ceramah Ust. Firanda Andirja, Lc, MA. Semoga Allah melindunginya dan mengampuni semua dosanya dan dosa kedua orangtuanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s