Pelajaran Kitab Thaharah

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya milik Allah, dan semoga shalawat dan salam semoga tetap tercurah bagi Nabi kita, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan juga kepada keluarganya, para sahabatnya dan semua orang yang mengkuti mereka hingga akhir zaman.

Ammaa ba’d…

Pada kesempatan ini dan merupakan tulisan saya yang pertama di blog ini, saya ingin membahas sebuah masalah fiqh secara singkat yang saya terjemahkan dari beberapa kitab seperti “Al-Wajiz Fii Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz” dan “Shahih Fiqh Sunnah”.

Kitab Ath-Thaharah

Ath-Thaharah: Secara bahasa membersihkan dan mensucikan dari berbagai macam hadas

Secara istilah: mengangkat hadas atau menghilangkan najis

Hadas adalah sesuatu yang membatalkan wudhu. Perlu diketahui bahwa tidak semua hadas adalah najis. Dan tidak semua najis itu hadas. Contoh hadas yang bukan najis: Buang angin atau kentut itu adalah hadas dan menyebabkan kita wajib untuk berwudhu. Tapi barang yang terkena anginnya tidak membuatnya wajib untuk dicuci atau disucikan. Dan contoh najis yang bukan hadas: kaki kita terkena kotoran kucing. Maka kita wajib membersihkan dan mencuci yang terkena najis itu tapi hal ini tidak menyebabkan wudhu batal. Kita hanya wajib untuk mensucikan yang terkena najis tadi saja.

Thaharah ini dibagi menjadi dua:

1. Thaharah Hakikiyyah: yaitu bersuci dari najis. Bersuci ini bisa jadi di badan, pakaian atau tempat

Bersuci dari najis, maka hukumnya adalah wajib ketika kita bisa mensucikannya. Sebagai mana Firman Allah, ((وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ )) “Maka sucikanlah pakaianmu” (QS. Al-Muddatstsir: 4)

2. Thaharah Hukmiyyah: Bersuci dari hadas. Ini dikhususkan untuk badan. Dan thaharah Hukmiyyah dibagi tiga:

     1. Thaharah Kubra: Bersuci dengan Mandi

     2, Thaharah Shugra: Bersuci dengan berwudhu

     3. Pengganti dari mandi dan wudhu yaitu Tayammum

Adapun bersuci dari hadas maka hukumnya wajib ketika kita ingin shalat dan segala amal ibadah yang membutuhkan thaharah dan ketika kita butuh bersuci dari hadas. Sebagaimana sabda Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam, ((لا تقبل الصلاة بغير طهور)) “Tidak diterima shalat seseorang tanpa bersuci” (HR. Muslim: 224)

Pentingnya Bersuci:

1. Bersuci adalah syarat di terimanya shalat seorang hamba. Sebagaimana sabda Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam, ((لا تقبل صلاة من أحدث حتى يتوضأ)) “Tidak diterima shalat seseorang yang berhadas sampai dia berwudhu” (HR. Bukhari: 135)

2. Allah memuji orang yang mensucikan dirinya. Sebagaimana firman Allah, ((إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ )) “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertaubat dan mencintai orang yang bersuci” (QS. Al-Baqarah: 222).

Wallahu a’lam. Insya Allah kita lanjut ke bab selanjutnya di tulisan yang akan datang.

Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada nabi Muhammad. Dan akhir dari seruan kami: Segala puji hanya milik Allah Rabb Semesta Alam.

——–Fathan bin Amin As-Subanjy——–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s